Belajar Disiplin Di Usia Prasekolah

sat-jakarta.com – Disiplin yang terbentuk melalui kebiasaan akan mendorong anak untuk memotivasi diri sendiri. Damar, 4 tahun, suka sekali bermain mobil-mobilan. Ia akan menghabiskan waktu lama saat bermain. Saking seru- nya, ia sering menolak ketika diingatkan Mama untuk mandi atau makan. Bahkan, Damar bisa menjawab, “Belum waktunya makan, Mama.”

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

Mama pun sering bingung bagaimana membujuk Damar untuk mandi atau makan. Kadang cara setengah memaksa ditempuh dengan menggendong Damar ke kamar mandi, hingga akhirnya Damar sendiri menikmati acara mandinya. Namun, kalau setiap kali harus setengah memaksa sampai Damar menangis, repot juga kan?

Bagaimana ya cara mengajari anak seusia Damar disiplin? Memasuki usia prasekolah, mengajari anak berdisplin menjadi tantangan bagi orangtua. Pada rentang usia ini pula anak mulai berusaha untuk mandiri, ingin melakukan apa-apa sendiri, tak mau dibantu oleh Mama Papa atau pengasuhnya. Imbasnya, si kecil sering sekali mengatakan “tidak” jika ia tidak mau melakukan hal yang kita minta.

Kabar baiknya, ungkapan “tidak” yang meluncur dari anak bukan berarti ia tak menghormati atau malah memberontak pada kita. Ia sedang belajar mengenali dirinya sendiri dan mencari tahu mana yang bisa ia lakukan sendiri mana yang tidak. Jadi, jangan buru-buru mengatakan anak susah diatur ya. Karena memang upaya mendisiplinkan anak tak serta merta tampak hasilnya.

Membentuk Kebiasaan Baik

Menurut Nessi Purnomo, Psi, MSi, psikolog di Keuskupan Agung Jakarta, disiplin itu berarti keteraturan dan ketaatan terhadap aturan. “Disiplin sebetulnya berupa kebiasaan berulang yang akhirnya membentuk pola perilaku,” tutur Nessi. Apalagi bagi anak prasekolah, penanaman disiplin itu berawal dari pembentukan pola perilaku yang nantinya menjadi kebiasaan.

Disiplin tidak selalu identik dengan kekerasan atau paksaan, tetapi justru membiasakan perilaku itu agar tumbuh dari dalam diri anak. “Pada dasarnya, disiplin itu lebih tertuju pada diri anak sendiri. Ia sendiri yang akan merasakan manfaatnya lebih banyak,” jelas Nessi. Dengan berdisiplin, hidup anak akan lebih teratur dan punya rutinitas. Anak pun dapat mengantisipasi hal-hal yang terjadi di luar rutinitasnya.

Lebih lanjut, disiplin dengan kebiasaan yang terbentuk sejak dini akan memudahkan anak mengetahui, mengenal, dan memahami dirinya sendiri. Setelah urusan diri sendiri beres, anak yang disiplin akan lebih mudah berbaur dalam lingkungan sekitarnya. Ya, mengajari anak disiplin juga berdampak pada cara anak berinteraksi dengan lingkungan selain keluarga dan rumah.

“Anak akan jadi bagian dari masyarakat atau komunitas, kan? Jika ia tak mampu berdisiplin diri, atau dia tidak punya aturan diri, dia akan dianggap ‘berbeda’ oleh lingkungannya,” kata Nessi. Berbeda di sini berarti anak dianggap tidak mampu mengikuti aturan yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, mendisiplinkan anak sejak dini adalah salah satu modal awal anak untuk ia terjun ke masyarakat kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *